Minggu, 28 Maret 2010

Tata Cara Membuat Obat

Pegang dengan kedua telapak tangan gelas air putih, ketika akan minum atau tempat air seperti, teko, gallon atau bak, ketika akan mandi, kemudian berdoa.

Ghusti
Saya mohon kiranya, Ghusti berkenan menjadikan zat air ini sebagai PENGHILANG segala penyakit lahir dan bathin saya/dalem


Hanya kepada Ghusti ingsun memohon
Matursembahnuwun Ghusti

Catatan:
Dilaksanakan sesering mungkin sampai sembuh

Tatanan Doa Permohonan

Bersyukur > Berserah Diri > Mohon Petunjuk > Permohonan > Beryukur

Bersyukur
Atas karunia Ghusti yang diterima dan yang berkaitan dengan Permintaan

Berserah Diri
Mengakui kesalahan2 yang berkaitan dengan Permintaan dan mohon ampunanNya.

Mohon petunjuk dan tuntunanNya
Ceritakan masalah yang sedang dihadapi

Permohonan
Utarakan masalah yang sedang dihadapi dan utarakan pula keinginan yang ada

Bersyukur
Atas izinNya untuk merasakan kebahagiaan dan untuk memohon

Catatan:
- Dikerjakan sebaiknya di waktu malam
- Ucapkan dengan suara pelan secara perlahan, agar kita sendiri mendengar dan mengerti (dengan bahasa Ibu)
- Sebelum berdoa pikirkan semua nikmat2 yang dirasakan dan ingat2lah kesalahan2 yang telah diperbuat sebisa mungkin yang berkaitan dengan hal yang sedang menjadi beban pikiran

Sabtu, 27 Maret 2010

Bahasa untuk Doa dan Sembahyang

Saya memang cenderung menggunakan kosa kata bahasa Indonesia dalam blog ini, dan bukan menggunakan bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan, Agama Jawi adalah bukan Agamanya orang Jawa saja, karena Jawi itu bukan berarti Jawa. Tetapi, “Jawi” mempunyai makna “Memiliki Budi Pekerti Yang Luhur” yang didalamnya sarat dengan muatan “Keseimbangan dan Kebahagiaan Hidup.”

Apa yang membuat kita dapat merasa dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, ketika kita berdoa atau sembahyang menghadap Nya?
- Kita harus mengerti terlebih dahulu, makna apa yang ingin kita lafalkan (baik dalam hati, maupun diucapan dengan kata-kata). Karena hal ini, merupakan proses antara “Alam Sadar dan Alam Bawah Sadar” kita, bahwa kita benar-benar membutuhkan Ghusti.
- Dengan mengerti dan menghayatinya secara alami, hal ini akan membuat “Alam Bawah Sadar” kita dapat menangkap dan merespon makna tersebut dengan benar, ketika kita mengucapkan kata-kata yang memang kita mengerti dan menghayatinya sejak kita kecil, atau disebut dengan menggunakan bahasa Ibu.
- Dengan menggunakan bahasa Ibu, ibarat kita hidup di dunia ini, orang yang pertama memberikan kesempatan untuk kita melanjutkan hidup kita adalah Ibu. Oleh sebabnya, Ibu diberikan kemampuan oleh Ghusti, untuk dapat menyusui anaknya. Di lain pihak, bahasa Ibu pun, adalah bahasa yang pertama didengar oleh “Alam Bawah Sadar” kita, sejak kita berada dalam kandungannya.
- Jadi, dengan menggunakan bahasa Ibu, sudah pasti, kita mengerti dan menghayati secara alami tanpa pemaksaan, makna dari kosa kata yang kita lafalkan.
- Kekuatan pengertian antara “Alam Sadar dan Alam Bawah Sadar” kita, adalah sebuah kekuatan yang jika digunakan dengan keikhlasan kepada Ghusti, maka hasilnya pun akan menghasilkan segala sesuatu yang positif.

Mengapa ada beberapa Agama yang mengharuskan berdoa atau sembahyangnya dengan bahasa tertentu?
- Memang, setiap bahasa memiliki kekuatan atau ruh dari bahasa itu sendiri, dalam menjelaskan sesuatu. Seperti kita tahu, bahasa Jerman ruhnya adalah mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tehnik, dimana kita tahu, kosa kata mengenai hal-hal tehnik, tidak ada bahasa yang sekomplit bahasa Jerman. Di sini lain, bahasa Prancis, memiliki kekuatan atau ruh bahasa “Cinta”, artinya, bahasa Prancis memiliki kosa kata yang lebih komplit, mengenai hal-hal yang berhubungan dengan “Cinta”, jika dibandingkan dengan bahasa lainnya.
- Selain itu, yang perlu kita ketahui bersama, bahwa bahasa Jawa adalah bahasa yang juga diakui oleh dunia internasional, sebagai bahasa pergaulan yang paling komplit di dunia. Tetapi, Agama Jawi tidak memaksakan untuk digunakan oleh seorang Kejawen. Hal ini jelas, dengan menggunakan bahasa Ibu, kita akan lebih mendapatkan ketenangan bathin, karena kita akan dapat benar-benar berkomunikasi dengan Nya.

Bolehkah kita Berdoa dan Sembahyang dalam bahasa Ibu?
- Tidak saja dibolehkan, tapi justru diharuskan. Hal ini karena, agar kita bisa mendapatkan rasa kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebabnya, kita tidak perlu menghafal dan menghayatinya lagi makna kosa kata yang akan kita lafalkan.
- Proses mengerti dan menghayati “Makna Kosa Kata” secara alami, akan menghasilkan keikhlasan yang alami pula dari dalam diri kita.

Catatan:
Mahluk Halus atau mahluk Ghaib saja, mengerti apa yang dimaksud oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Lalu bagaimana dengan Tuhan Yang Maha Esa? Tuhan Yang Maha Esa, tidak hanya mengerti setelah diucapkan oleh manusia, tetapi Tuhan Yang Maha Esa sudah lebih tahu sebelum kita ucapkan sekalipun.

Jumat, 26 Maret 2010

Bertegur Sapa

Dengan teman sebaya
Kita wajib mengucapkan kata “Salam” dengan tangan sedakep (posisi jempol mengenai belahan dada). Artinya, saya menghormati Anda, dari dalam hati saya.

Dengan orang yang lebih tua atau dituakan
Kita wajib mengucapkan kata “Salam” Dengan tangan sedakep (posisi jempol mengenai bawah bibir/bawah dagu). Artinya, saya menghormat Anda, tidak saja dari dalam hati saya, tetapi saya pun akan bertutur kata dengan santun kepada Anda.

Kamis, 25 Maret 2010

Bertamu ke Rumah Orang

Jika kita bertamu ke rumah orang, dan mengetuk pintunya,kita wajib meng ucapkannya “Sepada”. Artinya, permisi siapa yang ada di dalam? (pemilik rumah, atau penghuni rumah lainnya termasuk mahluk Gaib)

Catatan:
Apakah mahluk Gaib mengerti bahasa manusia – seperti “Sepada” misalnya? Mereka tidak menggunakan oral vocabulary, tetapi mereka memahami dan menterjemahkan getaran / gelombang yang keluar dari manusia. Sehingga, dimanapun mereka berada, mereka mengerti apa yang dibicarakan atau dimaksud oleh manusia.

Rabu, 24 Maret 2010

Masuk ke Rumah Sendiri

Membuka pintu dengan mengucapkan dalam hati “Terimakasih Ghusti, ingsun tiba di rumah dengan selamat”

Mengapa tidak mengucapkan salam? Hal ini dikarenakan, kita memasuki tempat tinggal kita (bisa rumah sendiri atau kontrak), agar penghuni halus lainnya mengetahui bahwa mereka adalah tamu bukan tuan rumah. Sebab, jika kita masuk ke tempat tinggal kita dengan mengucapkan salam, maka penghuni halus merasa dirinyalah yang menjadi tuan rumah. Dengan demikian, mereka mempunyai hak mengusir atau mengganggu tamunya.

Memang untuk masuk tempat tinggal kita (rumah sendiri atau kontrak) untuk pertama kalinya, saat pindahan, kita harus minta izin terlebih dahulu.

Catatan:
Kosa kata Salam sudah dikenal jauh sebelum Masehi
Orang Kristen(Masehi) mengucapkan kata Shalom (terjemahannya salam), Orang Islam (Abad ke 6) mengucapkan Assalammuailaikum