Sabtu, 31 Juli 2010

Malu Mengaku Kejawen

Kalau kita membaca kliping-kliping tahun 70-an (tepatnya sekitar tahun 1975 - 1979), terasa benar, pada saat itu masyarakat Indonesia malu mengaku produk dalam negeri.

Hal ini bukan hal yang kebetulan, tetapi ada kekuatan luar yang membawa dampak ini. Kekuatan luar tersebut, tentunya tidak dapat berjalan secara mulus, kalau tidak ada penghianat-penghianat Bangsa ini yang membantu masuknya produk asing, dan mempersulit berkembangnya Produk Dalam Negeri.

Hal tersebut mengingatkan kita pada pristiwa penghianatan Raden Patah YTPHN, terhadap Ayah kandungnya sendiri, demi membantu penyebaran Agama Pendatang.

Pada priode tersebut, mulailah terasa, bahwa banyaknya opini negatif terhadap penganut Agami Jawi, yang dibuat oleh kelompok Agama Pendatang tersebut.

Mulai dari konsep syirik, yang tadinya tidak dikenal kosa kata tersebut di tanah Jawa ini, karena memang sebenarnya Agami Jawi tidak menyembah berhala / Mahluk Halus / Jin atau roh-roh lainnya, seperti yang selalu dituduhkan Agama Pendatang kepada pemeluk Kedjawen.

Di lain pihak, sifat orang Jawa secara mayoritas adalah orang tidak senang berkonflik, maka tuduhan tersebut tidak ditanggapi secara serius. Akibatnya, dari generasi ke generasi selanjutnya, terkikislah pemeluk Agami Jawi. Yang terjebak dalam opini Agama Pendatang.

Yang perlu diingat, semua Agama di Dunia ini, pasti mempunyai atau memiliki satu titik fokus untuk mereka melalukan ritual Sembahyang. Agama Hindu dengan Patung-patung Suci-nya, Agama Budha juga demikian, Agama Kristen dengan Patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus, Agama Islam dengan Kabah-nya.

Bagaimanapun mereka berkelit, semua Benda tersebut adalah sebagai sarana arah konsentrasi dan pembentukan imajinasi mereka. Lagi-lagi masalah ke-Iman-an dan Dogma yang ditonjolkan dalam mengkunci definisi Benda yang mereka Sembah Sebagai Arah Imajinasi dan Konsentrasi, sebagai Definisi yang mereka terjemahkan menurut keyakinan pendahulunya.

Memang, pemeluk agama dimanapun, mungkin hanya segelintir saja dari pemeluknya yang mau benar-benar mengerti makna yang terkandung dalam ritual-ritualnya.

Catatan:
Kejawen, sebenar-benarnya adalah satu-satunya Agama di muka bumi ini, yang tidak membutuhkan Benda apapun untuk melakukan ritual. Hanya saja, tidak setiap orang memilki daya konsentrasi yang tinggi, sehingga bagi mereka inilah dibutuhkan sebuah Benda untuk arah konsentrasinya. Hal ini dikarenakan, tidak setiap orang dapat melakukan Olah Roso dengan penuh rasa pasrah kepadaNya.

Sementara banyak ilmu beladiri di Nusantara ini, yang menggunakan kekuatan Ghaib. Seperti di semua dan setiap bangsa yang ada di Dunia ini, memiliki ilmu-ilmu beladiri yang berkekuatan Ghaib pula.

Senin, 05 April 2010

Dosa dan Rasa Berdosa

Dosa merupakan hukuman kepada seseorang dari perbuatan buruknya kepada Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb). Siapakah yang berhak untuk menilai itu dosa atau tidak? Jawabannya absolut, hanya Tuhan Yang Maha Esa

Ada pepatah, ketidaktahuan membuat orang lebih merasa nyaman dalam pikirannya. Karena Dosa seseorang, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang mengetahuinya. Jadi sebenarnya, semua orang tidak akan terusik pikirannya jika dirinya berbuat kejahatan, kalau memang ia lahir dan tumbuh dibesarkan di lingkungan yang jahat.

Tetapi perlu diingat, sebagai keluarga normal, dari kecil kita selalu diajari oleh orang tua kita, untuk menjadi orang yang Berbudi Luhur. Dengan nilai-nilai, atau horma-norma yang baik, akan menumbuhkan Cognitif, Affektif dan Motorik pikiran yang positif. Sehingga jika kita berbuat menyimpang dari norma yang diajarkan oleh orang tua kita, maka dalam pikiran kita timbul rasa bersalah.

Sedangkan Rasa Berdosa adalah, perasaan yang selalu menghantui kita, karena perbuatan buruk kita sendiri kepada Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb).

Bagaimana seseorang dapat merasa berdosa? Hanya jika ia mengerti makna dari doa yang ia ucapkan.

Catatan:
Beruntunglah bagi Anda yang berdoa dengan bahasa yang Anda sendiri tidak mengerti, karena Anda tidak pernah merasa bersalah. Tetapi, semakin banyak orang yang seperti Anda, maka semakin cepat pulalahh dunia ini akan hancur.

Minggu, 28 Maret 2010

Tata Cara Membuat Obat

Pegang dengan kedua telapak tangan gelas air putih, ketika akan minum atau tempat air seperti, teko, gallon atau bak, ketika akan mandi, kemudian berdoa.

Ghusti
Saya mohon kiranya, Ghusti berkenan menjadikan zat air ini sebagai PENGHILANG segala penyakit lahir dan bathin saya/dalem


Hanya kepada Ghusti ingsun memohon
Matursembahnuwun Ghusti

Catatan:
Dilaksanakan sesering mungkin sampai sembuh

Tatanan Doa Permohonan

Bersyukur > Berserah Diri > Mohon Petunjuk > Permohonan > Beryukur

Bersyukur
Atas karunia Ghusti yang diterima dan yang berkaitan dengan Permintaan

Berserah Diri
Mengakui kesalahan2 yang berkaitan dengan Permintaan dan mohon ampunanNya.

Mohon petunjuk dan tuntunanNya
Ceritakan masalah yang sedang dihadapi

Permohonan
Utarakan masalah yang sedang dihadapi dan utarakan pula keinginan yang ada

Bersyukur
Atas izinNya untuk merasakan kebahagiaan dan untuk memohon

Catatan:
- Dikerjakan sebaiknya di waktu malam
- Ucapkan dengan suara pelan secara perlahan, agar kita sendiri mendengar dan mengerti (dengan bahasa Ibu)
- Sebelum berdoa pikirkan semua nikmat2 yang dirasakan dan ingat2lah kesalahan2 yang telah diperbuat sebisa mungkin yang berkaitan dengan hal yang sedang menjadi beban pikiran

Sabtu, 27 Maret 2010

Bahasa untuk Doa dan Sembahyang

Saya memang cenderung menggunakan kosa kata bahasa Indonesia dalam blog ini, dan bukan menggunakan bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan, Agama Jawi adalah bukan Agamanya orang Jawa saja, karena Jawi itu bukan berarti Jawa. Tetapi, “Jawi” mempunyai makna “Memiliki Budi Pekerti Yang Luhur” yang didalamnya sarat dengan muatan “Keseimbangan dan Kebahagiaan Hidup.”

Apa yang membuat kita dapat merasa dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, ketika kita berdoa atau sembahyang menghadap Nya?
- Kita harus mengerti terlebih dahulu, makna apa yang ingin kita lafalkan (baik dalam hati, maupun diucapan dengan kata-kata). Karena hal ini, merupakan proses antara “Alam Sadar dan Alam Bawah Sadar” kita, bahwa kita benar-benar membutuhkan Ghusti.
- Dengan mengerti dan menghayatinya secara alami, hal ini akan membuat “Alam Bawah Sadar” kita dapat menangkap dan merespon makna tersebut dengan benar, ketika kita mengucapkan kata-kata yang memang kita mengerti dan menghayatinya sejak kita kecil, atau disebut dengan menggunakan bahasa Ibu.
- Dengan menggunakan bahasa Ibu, ibarat kita hidup di dunia ini, orang yang pertama memberikan kesempatan untuk kita melanjutkan hidup kita adalah Ibu. Oleh sebabnya, Ibu diberikan kemampuan oleh Ghusti, untuk dapat menyusui anaknya. Di lain pihak, bahasa Ibu pun, adalah bahasa yang pertama didengar oleh “Alam Bawah Sadar” kita, sejak kita berada dalam kandungannya.
- Jadi, dengan menggunakan bahasa Ibu, sudah pasti, kita mengerti dan menghayati secara alami tanpa pemaksaan, makna dari kosa kata yang kita lafalkan.
- Kekuatan pengertian antara “Alam Sadar dan Alam Bawah Sadar” kita, adalah sebuah kekuatan yang jika digunakan dengan keikhlasan kepada Ghusti, maka hasilnya pun akan menghasilkan segala sesuatu yang positif.

Mengapa ada beberapa Agama yang mengharuskan berdoa atau sembahyangnya dengan bahasa tertentu?
- Memang, setiap bahasa memiliki kekuatan atau ruh dari bahasa itu sendiri, dalam menjelaskan sesuatu. Seperti kita tahu, bahasa Jerman ruhnya adalah mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tehnik, dimana kita tahu, kosa kata mengenai hal-hal tehnik, tidak ada bahasa yang sekomplit bahasa Jerman. Di sini lain, bahasa Prancis, memiliki kekuatan atau ruh bahasa “Cinta”, artinya, bahasa Prancis memiliki kosa kata yang lebih komplit, mengenai hal-hal yang berhubungan dengan “Cinta”, jika dibandingkan dengan bahasa lainnya.
- Selain itu, yang perlu kita ketahui bersama, bahwa bahasa Jawa adalah bahasa yang juga diakui oleh dunia internasional, sebagai bahasa pergaulan yang paling komplit di dunia. Tetapi, Agama Jawi tidak memaksakan untuk digunakan oleh seorang Kejawen. Hal ini jelas, dengan menggunakan bahasa Ibu, kita akan lebih mendapatkan ketenangan bathin, karena kita akan dapat benar-benar berkomunikasi dengan Nya.

Bolehkah kita Berdoa dan Sembahyang dalam bahasa Ibu?
- Tidak saja dibolehkan, tapi justru diharuskan. Hal ini karena, agar kita bisa mendapatkan rasa kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebabnya, kita tidak perlu menghafal dan menghayatinya lagi makna kosa kata yang akan kita lafalkan.
- Proses mengerti dan menghayati “Makna Kosa Kata” secara alami, akan menghasilkan keikhlasan yang alami pula dari dalam diri kita.

Catatan:
Mahluk Halus atau mahluk Ghaib saja, mengerti apa yang dimaksud oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Lalu bagaimana dengan Tuhan Yang Maha Esa? Tuhan Yang Maha Esa, tidak hanya mengerti setelah diucapkan oleh manusia, tetapi Tuhan Yang Maha Esa sudah lebih tahu sebelum kita ucapkan sekalipun.

Jumat, 26 Maret 2010

Bertegur Sapa

Dengan teman sebaya
Kita wajib mengucapkan kata “Salam” dengan tangan sedakep (posisi jempol mengenai belahan dada). Artinya, saya menghormati Anda, dari dalam hati saya.

Dengan orang yang lebih tua atau dituakan
Kita wajib mengucapkan kata “Salam” Dengan tangan sedakep (posisi jempol mengenai bawah bibir/bawah dagu). Artinya, saya menghormat Anda, tidak saja dari dalam hati saya, tetapi saya pun akan bertutur kata dengan santun kepada Anda.

Kamis, 25 Maret 2010

Bertamu ke Rumah Orang

Jika kita bertamu ke rumah orang, dan mengetuk pintunya,kita wajib meng ucapkannya “Sepada”. Artinya, permisi siapa yang ada di dalam? (pemilik rumah, atau penghuni rumah lainnya termasuk mahluk Gaib)

Catatan:
Apakah mahluk Gaib mengerti bahasa manusia – seperti “Sepada” misalnya? Mereka tidak menggunakan oral vocabulary, tetapi mereka memahami dan menterjemahkan getaran / gelombang yang keluar dari manusia. Sehingga, dimanapun mereka berada, mereka mengerti apa yang dibicarakan atau dimaksud oleh manusia.

Rabu, 24 Maret 2010

Masuk ke Rumah Sendiri

Membuka pintu dengan mengucapkan dalam hati “Terimakasih Ghusti, ingsun tiba di rumah dengan selamat”

Mengapa tidak mengucapkan salam? Hal ini dikarenakan, kita memasuki tempat tinggal kita (bisa rumah sendiri atau kontrak), agar penghuni halus lainnya mengetahui bahwa mereka adalah tamu bukan tuan rumah. Sebab, jika kita masuk ke tempat tinggal kita dengan mengucapkan salam, maka penghuni halus merasa dirinyalah yang menjadi tuan rumah. Dengan demikian, mereka mempunyai hak mengusir atau mengganggu tamunya.

Memang untuk masuk tempat tinggal kita (rumah sendiri atau kontrak) untuk pertama kalinya, saat pindahan, kita harus minta izin terlebih dahulu.

Catatan:
Kosa kata Salam sudah dikenal jauh sebelum Masehi
Orang Kristen(Masehi) mengucapkan kata Shalom (terjemahannya salam), Orang Islam (Abad ke 6) mengucapkan Assalammuailaikum

Senin, 15 Februari 2010

Empat Tekad Dalam Berdoa

Dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa.

Lambang dan simbol mengartikan secara kiasan bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan Yang Maha Esa / Ghusti. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk, seperti; tumpeng, sesaji dsb. sebagai simbol kemanunggalan tekad bulat.

Olehkarenanya, manusia Jawa dalam berdoa melibatkan "Empat Unsur Tekad Bulat" yakni; Hati, Fikiran, Ucapan, dan Tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan Masyarakat Manusia, maupun Masyarakat Gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam melakukan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa / Ghusti.

Bagi manusia Jawa, setiap "Rasa Syukur dan Doa" harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (atau diiringi dengan usaha), sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doanya dikabulkan.

Minggu, 14 Februari 2010

Catatan

Mantra dan Doa
Saya menggantikan kata mantra dengan doa, hal ini jelas alasannya. Bagi orang yang mengaku seorang Kejawen, tetapi mereka mengatakan doanya sebagai mantra, dapat dipastikan bahwa mereka, secara sengaja atau tidak sengaja terpengaruh oleh kelompok/golongan, yang ingin mendiskriditkan atau memutarbalikan fakta, sehingga orang menganggap bahwa Kejawen itu adalah sebagai aliran Kebatinan / Ilmu Hitam / Penyembah Berhala.

Jadi, bagi Anda yang mempelajari Agami Jawi dari sumber-sumber yang tidak jelas. Jika mereka menyebut Mantra, sebaik apapun prolog dari tulisan itu, dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang dari agama lain, yang ingin merusak makna luhurnya Agami Jawi.

Allah dan Ghusti
Kita sama-sama sepakat bahwa Tuhan sebagai “Yang Maha Pencipta” adalah Esa, sehingga seperti Air, kita pun dapat menyebut dalam bahasa Inggris; Water, atau dalam bahasa Jerman; Wasser, tetapi inti semuanya adalah sama, yakni H2O. Jadi, makna intinya adalah, jika Tuhan kita sapa dengan bahasa apapun, maka yang dimaksud adalah tetap Tuhan Yang Maha Esa. Berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa saat kita menyembahNya, merupakan hubungan yang unik bagi setiap individu. Saya pribadi menggunakan kosa kata Ghusti untuk menyembahNya.

Kanuragan
Orang-orang yang ingin menyesatkan pemahaman Agami Jawi, mereka memutarbalikan fakta, dengan menyisipkan kedalam ajaran Kejawen, yakni "
metode praktis untuk melatih ilmu tenaga dalam". Padahal ilmu itu adalah, ilmu bela diri tradisional orang-orang Jawa yang disebut Kanuragan. Jadi Kanuragan sama sekali bukan bagian dari Agama Jawi, karena Agama Jawi tidak mengajarkan seseorang untuk perang. Dan anehnya, para penganut Kanuragan, ternyata banyak yang melafalkan Mantra mereka dengan bahasa Arab.